Rabu, 11 Februari 2009

PENDIDIKAN DIPLOMASI LINGKUNGAN

*PERLUNYA PENDIDIKAN DIPLOMASI LINGKUNGAN*

*by Andreas Pramudianto, SH,MSi*

(Artikel buat rekan Bayu untuk diterbitkan di majalahnya)

Di millennium baru ini, diplomasi tetap menjadi salah satu /tool / yang
penting dalam hubungan internasional. Diplomasi kini sudah bukan menjadi
arena yang ekslusif lagi bagi suatu negara dikarenakan mulai banyaknya
entitas bukan negara yang terlibat dalam perundingan internasional
khususnya di bidang lingkungan hidup. Dari Stockholm 1972 ke Johanesburg
2002, atau dari /Conference of the Parties/ (COP) satu ke COP yang
lainnya hingga berbagai pertemuan-pertemuan lainnya, telah menghasilkan
ribuan dokumen penting yang merupakan hasil nyata dari kegiatan
diplomasi lingkungan. Dengan demikian banyaknya kesepakatan global
mengenai lingkungan hidup, merupakan salah satu indikator bahwa
diplomasi lingkungan akan memainkan peran penting di masa mendatang.

Kebutuhan diplomat yang mampu menangani persoalan lingkungan hidup dalam
arena hubungan internasional, nampaknya sudah merupakan hal yang mutlak
harus dipersiapkan baik melalui pendidikan formal maupun non formal . Di
negara-negara maju, pendidikan para diplomat sudah mengarah pada hal-hal
yang spesifik. Bahkan tidak hanya diberikan untuk diplomat saja, akan
tetapi juga para non diplomat yang berkeinginan terlibat dalam berbagai
perundingan internasional. Pengalaman Amerika Serikat, melalui Duta
Besarnya Richard E Benedick, telah memberikan gambaran bahwa betapa
pentingnya pengetahuan lingkungan khususnya pendidikan lingkungan para
diplomat atau perlunya diplomat yang memahami seluk beluk diplomasi
lingkungan. Dari pengalaman ini di Amerika Serikat, beberapa perguruan
tinggi telah menyediakan mata kuliah bahkan jurusan khusus mengenai
diplomasi lingkungan atau paling tidak pernah membuka beberapa kali
untuk studi di bidang diplomasi lingkungan. Demikian juga dengan
pelatihan singkat /(short course) / telah berkembang di berbagai
universitas. Hal ini juga diikuti oleh universitas di Negara-negara Uni
Eropa dan Negara maju lainnya seperti Jepang.

Sementara itu di Negara-negara berkembang, diplomasi lingkungan belum
menjadi perhatian yang serius. Diplomat-diplomat yang terlibat dalam
negosiasi lingkungan masih harus belajar sendiri. Sumberdaya manusia
yang menangani diplomasi lingkungan sangat terbatas. Akibatnya hampir
setiap negosiasi internasional di bidang lingkungan hidup beberapa
Negara berkembang tidak mampu mempertahankan posisinya atau hanya
menjadi pengikut Negara-negara maju tertentu. Kesepakatan-kesepakatan
yang merugikan Negara-negara berkembang, tidak mampu dideteksi atau
diantisipasi sejak awal melalui para diplomatnya yang terbatas
pengetahuan lingkungan hidupnya. Sementara itu para diplomat maupun non
diplomat dari Negara-negara maju sering lebih mampu mengendalikan
situasi bahkan menjadi penentu dalam berbagai kesepakatan-kesepakatan
yang dihasilkan yang tentu saja menguntungkan negaranya. Atau paling
tidak walaupun ditentang banyak negara, namun para diplomatnya tetap
mampu mempertahankan posisinya yang menguntungkan.

Pengalaman, seringnya praktek serta ketrampilan belumlah cukup jika
tidak diimbangi dengan pengetahuan dan pendidikan lingkungan yang
memadai. Tanpa pengetahuan dan pendidikan lingkungan, kadang-kadang
seorang diplomat hanya dapat meraba atau menduga suatu pembahasan yang
menyangkut persoalan lingkungan hidup. Bahkan dalam perdebatan,
kadang-kadang menjadi debat kusir yang tidak dimengerti oleh pihak lain.
Padahal persoalan lingkungan hidup sedemikan luas mulai dari isu global,
regional dan nasional hingga lokal. Atau dari topik perubahan iklim,
penggurunan, ozon hingga perdagangan satwa langka. Bahkan topik-topik
yang lebih spesifik dari pencemaran udara, mekanisme penurunan emisi
seperti clean development mechanisme hingga penentuan batas emisi yang
diperbolehkan. Bahkan diplomasi lingkungan / (environmental diplomacy)/
kini telah berkembang jauh lebih spesifik dengan munculnya istilah lain
seperti diplomasi ozon (/ozone diplomacy)/. Hal ini kemungkinan juga
akan memunculkan berbagai istilah baru dari diplomasi lingkungan
terutama berkaitan dengan perundingan-perundingan internasional lainnya
seperti /biodiversity diplomacy, climate change diplomacy, hazardous
waste diplomacy, environmental marine diplomacy/, dll.

Jika seorang diplomat atau non diplomat baik para negosiator, pelobi,
atau pihak berkepantingan lainnya tidak memahami esensi persoalan
lingkungan hidup yang dihadapi, akan sulit mencapai keberhasilan dalam
proses perundingan. Bahkan kadang-kadang perundingan di bidang
lingkungan hidup akan semakin kompleks dan melebar tanpa bisa dikendalikan.

Bagi Indonesia yang pernah beberapa kali menjadi tuan rumah event
internasional di bidang lingkungan hidup seperti PrepCom maupun COP
ataupun pertemuan teknis lainnya, sebenarnya sudah waktunya
mengembangkan pendidikan diplomasi lingkungan bagi semua kalangan.
Diplomasi lingkungan melalui pendidikan sangat perlu baik bagi para
diplomat maupun non diplomat. Selain bagi para diplomat yang jelas
sangat mutlak diperlukan, juga bagi para non diplomat yang akan menambah
pengetahuan serta kapasitasnya jika suatu ketika terlibat dalam suatu
perundingan internasional di bidang lingkungan hidup. Para non diplomat
seperti pengusaha/industriawan, akademisi, politisi, kalangan NGO/LSM,
wartawan, pekerja/buruh, masyarakat adat hingga celebritis serta profesi
lainnya akan sangat membutuhkan pendidikan diplomasi lingkungan sebagai
kesiapan jika akan terlibat dalam suatu perundingan internasional di
bidang lingkungan hidup atau pembangunan berkelanjutan.

Bagi yang ingin memahami dan mempelajari serta mendalami diplomasi
lingkungan perlu mengetahui beberapa topik yang dapat secara praktis
dijadikan bahan pelajaran dasar seperti :

1. Pengetahuan Kebijakan dan Politik Luar Negeri
2. Pengetahuan proses negosisasi
3. Prosedur dan tata cara perundingan internasional
4. Pengetahuan peran organisasi internasional dan lembaga-lembaga
internasional serta perbedaannya dengan struktur nasional.
5. Pengetahuan mengenai institusi negara, industri, masyarakat sipil,
dll
6. Pengetahuan berbagai gerakan seperti gerakan konservasi dan
lingkungan hidup, gerakan wanita, pemuda dll.
7. Pengetahuan masyarakat lokal dan peran serta kegiatannya.
8. Pengetahuan ilmu hubungan internasional, ilmu lingkungan dan diplomasi
9. Pengetahuan ilmu-ilmu dasar seperti kimia, biologi, budaya,
politik, ekonomi, kesehatan dll untuk membahas bidang-bidang
tertentu seperti limbah, keanekaraaman hayati, bahan berbahaya dan
beracun, perubahan iklim dll.
10. Metodologi ilmu pengetahuan
11. Memahami istilah-istilah yang berkaitan dengan lingkungan hidup
12. Pengetahuan terhadap kasus-kasus lingkungan hidup
13. Pengetahuan hukum lingkungan nasional, regional dan internasional
14. Pengetahuan mengenai berbagai kegiatan lingkungan hidup baik
tingkat lokal, nasional, regional maupun global.
15. Memahami berbagai dokumen lingkungan hidup global.
16. Pengalaman diplomat maupun non diplomat yang pernah terlibat dalam
perundingan internasional.
17. Dll.

Karena itu bagi Indonesia, penanganan mengenai pendidikan baik yang
formal maupun non formal dibidang diplomasi lingkungan ini harus serius
dilakukan mengingat masih banyaknya berbagai negosiasi lingkungan yang
masih terus akan terjadi. Meningkatkan pendidikan, pelatihan, kajian
serta studi-studi mengenai diplomasi lingkungan menjadi sangat penting
dikembangkan.Jika hal ini dilakukan maka keberhasilan Indonesia di
kemudian hari di bidang diplomasi lingkungan ataupun diplomasi yang
terkait dengan lingkungan hidup diharapkan akan mencapai sukses yang
lebih dari sebelumnya. Penting diingat bahwa kegiatan diplomasi
lingkungan nampaknya tidak akan berakhir sepanjang planet bumi masih
menjadi tumpuan umat manusia.

*/(Bahan sebagian diambil dari Buku Diplomasi Lingkungan : Teori dan
Fakta oleh Andreas Pramudianto, Penerbit UI Press, Jakarta 2008)/*

1 komentar:

  1. wah, terimakasih pak Andreas...artikel Bapak sangat membantu sekali untuk saya dalam mendalami lebih lanjut mengenai masalah lingkungan. mudah2an saya berkesempatan untuk membaca buku Bapak. terima kasih

    BalasHapus